SAMARINDA – Korban pengeroyokan di Jalan Anggur, Kecamatan Samarinda Ulu, Satya Nur Rahmadani, mengaku memilih menyelesaikan perkara secara damai karena menganggap persoalan yang memicu insiden tersebut hanyalah kesalahpahaman.
Keputusan itu, kata Satya, murni datang dari dirinya sendiri tanpa adanya paksaan maupun intervensi dari pihak mana pun.
“Memang dari pribadi saya sendiri. Sebetulnya itu hanya hal kecil karena saya cuma menegur saja,” ujarnya usai konferensi pers di Polsek Samarinda Ulu, Jumat (17/7/2026).
Satya menjelaskan, sebelum tercapai kesepakatan damai, kepolisian telah bekerja mencari dan mengamankan para pelaku. Setelah bertemu, para pelaku mengakui kesalahan dan meminta maaf secara langsung.
“Mereka bilang itu hanya emosi sesaat. Saya juga sudah bilang, lain kali hati-hati karena waktu itu saya sedang membawa anak dan istri,” katanya.
Menurut Satya, pengakuan kesalahan dari para pelaku menjadi salah satu alasan dirinya memutuskan untuk memaafkan.
“Saya melihat mereka mengakui salah, jadi saya memilih memaafkan,” ucapnya.
Terkait anggapan bahwa perdamaian terjadi karena uang, Satya membantahnya. Ia menegaskan keputusan mencabut laporan bukan didasari kompensasi dari pelaku.
“Bukan karena uang. Memang kemauan saya sendiri dan pelaku juga mengakui kesalahannya,” tegasnya.
Ia mengakui menerima sejumlah uang dari pelaku. Namun, uang tersebut hanya sebagai bentuk bantuan untuk biaya pengobatan.
Satya juga memastikan kondisi istri dan anaknya yang turut berada di lokasi saat kejadian kini telah pulih. Meski kasus tersebut sempat menjadi perhatian publik, keluarganya tidak mengalami tekanan.
“Alhamdulillah baik-baik saja. Banyak yang bertanya soal kelanjutannya, saya sampaikan semuanya sudah selesai dan aman,” katanya.
Satya kembali menegaskan, keputusan menyelesaikan perkara secara damai merupakan keinginannya sendiri dan tidak ada intervensi dari pihak mana pun.
Diketahui, peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi di Jalan Anggur, Kecamatan Samarinda Ulu, Minggu (12/7/2026) sekitar pukul 18.00 Wita. Insiden bermula saat Satya menegur pengendara mobil agar berhati-hati ketika melintas di persimpangan. Teguran itu diduga membuat dua pelaku tersinggung hingga berujung aksi pemukulan. Kasus tersebut sempat viral di media sosial sebelum akhirnya diselesaikan melalui kesepakatan damai antara korban dan pelaku.
