Kalimantan Timur

DPKH Kaltim Pastikan Kasus PMK Terkendali, Vaksinasi dan Pengawasan Diperketat

Avatar photo
Oleh Redaksi
Ukuran Font
Kecil Besar

SAMARINDA – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak di Kalimantan Timur (Kaltim) dinyatakan dalam kondisi terkendali. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim terus menggencarkan vaksinasi dan memperketat pengawasan lalu lintas ternak untuk mencegah penyebaran penyakit ini.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPKH Kaltim, drh. Diah Anggraini, mengungkapkan, meskipun beberapa kasus PMK sempat ditemukan di wilayah Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur, situasi saat ini telah terkendali.

“Total ada 132 ekor ternak yang terinfeksi PMK. Dari jumlah tersebut, 83 ekor telah sembuh, sementara 34 ekor harus dipotong secara bersyarat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut,” jelasnya kepada Jurnalborneo.com, Rabu (22/1/2025).

Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPKH Kaltim, drh. Diah Anggraini
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPKH Kaltim, drh. Diah Anggraini

PMK sendiri disebabkan oleh virus yang menyerang hewan berkuku belah, seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Meski tidak menular ke manusia, daging ternak yang terinfeksi tetap aman dikonsumsi selama melalui pemotongan bersyarat.

“Bagian tubuh seperti kepala dan kaki bawah yang mengalami perubahan harus dimusnahkan dan tidak boleh dikonsumsi,” tambah Diah.

Untuk mencegah kasus baru, DPKH Kaltim telah menyiapkan 14.750 dosis vaksin PMK yang akan disebar sepanjang tahun 2024. Vaksinasi tahap awal ditargetkan 1.475 dosis pada Januari, dengan prioritas di Desa Korporasi Ternak (PDKT) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pembibitan Ternak dan Hijauan Pakan Ternak (PTHPT) di Api-Api.

Selain itu, pengawasan lalu lintas ternak diperketat di titik-titik strategis, seperti pos pemeriksaan di Muara Komam dan Batu Engau, Kabupaten Paser. DPKH juga masih membatasi pemasukan sapi dari Pulau Jawa, mengingat kasus PMK di sana kembali meningkat. Sebagai gantinya, ternak yang masuk ke Kaltim lebih banyak berasal dari NTT dan Sulawesi, yang hingga kini masih bebas PMK.

Diah mengingatkan para peternak untuk segera melapor jika menemukan gejala PMK, seperti lepuh di mulut, air liur berlebihan, dan kesulitan berjalan akibat luka di kuku. Laporan bisa disampaikan ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) atau melalui call center yang telah disediakan.

“Vaksinasi merupakan langkah pencegahan paling efektif. Kami berharap peternak bisa berperan aktif dalam program ini, agar ternaknya tetap sehat dan tidak terdampak saat mendekati Idul Adha nanti,” pungkasnya.(*)