Samarinda

Banjir Lumpur Runtuhkan Pagar MAN 1 Samarinda

Avatar photo
Oleh Jalia
Ukuran Font
Kecil Besar

SAMARINDA – Hujan deras yang mengguyur kawasan Jalan P. Suryanata, Kelurahan Air Putih, Samarinda Ulu pada Minggu (31/8/2025) kembali membawa banjir yang bercampur lumpur dari arah pematangan lahan perumahan. Akibatnya, pagar belakang Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Samarinda ambruk dan menimpa sebagian gudang sekolah.

Kepala MAN 1 Samarinda, Drs. H. Dede Rohimat, menegaskan, persoalan utama yang dihadapi sekolah adalah banjir yang kerap datang setiap hujan deras. Namun, keberadaan lumpur dari proyek pematangan lahan membuat kondisi menjadi lebih buruk.

“Permasalahan utamanya memang banjir. Tetapi karena bercampur lumpur dari area proyek perumahan, dampaknya jadi semakin parah. Kami di madrasah hampir selalu terkena banjir yang disertai lumpur,” jelasnya kepada Jurnalborneo.com Jumat (5/9/2025).

Kondisi usai runtuhnya pagar belakang MAN 1

Ia mengungkapkan, pagar yang runtuh memang sudah lama terkikis aliran air dari atas.

“Setiap hujan deras, air bercampur lumpur turun ke arah sekolah. Pondasi pagar terkikis sedikit demi sedikit, dan saat hujan Minggu kemarin akhirnya runtuh,” tambahnya.

Meski terjadi kerusakan, Dede memastikan aktivitas belajar mengajar tetap berjalan. 

“Kebetulan kejadian hari Minggu saat libur. Senin dan Selasa anak-anak belajar daring karena ada instruksi Kemenag terkait aksi unjuk rasa, jadi tidak ada hambatan berarti,” katanya.

Pasca kejadian, pihak sekolah segera berkoordinasi dengan RT, Lurah, dan pengembang. Selasa (2/9/2025) dilakukan peninjauan lapangan, dan Rabu (3/9/2025) tim pengembang mulai membersihkan lokasi serta memperbaiki pagar yang runtuh.

Jalanan berlumpur akibat banjir

Sementara itu, Ketua Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kelurahan Air Putih, Sigit Pramono, menyebut dampak banjir lumpur tidak hanya dirasakan pihak sekolah. 

“Keluhan masyarakat bukan cuma soal pagar sekolah yang roboh, tapi juga lumpur meluber sampai ke jalan, bahkan ke area pemakaman di belakang SD 005,” ujarnya.

Sigit mengingatkan, persoalan ini sudah berulang sejak lama. Aktivitas pematangan lahan di kawasan tersebut bahkan pernah dihentikan Wali Kota karena menimbulkan dampak lingkungan. 

“Sekarang aktivitasnya muncul lagi. Padahal dulu sudah pernah disegel,” tegasnya.

Baik pihak sekolah maupun FKPM mendesak pengembang agar menunjukkan komitmen dalam mencari solusi efektif. Harapannya, aliran air dari proyek perumahan dapat dialihkan ke saluran besar sehingga tidak lagi merugikan warga maupun merusak fasilitas pendidikan.(*)